Cari Penerbangan

16 Oktober 2014

GONDANG NAPOSO - TAPUT (SUMUT)

GONDANG NAPOSO

Berbicara tentang pesona budaya Batak, tentu tidak akan ada habisnya. Bagaimana tidak ? Seluruh budaya di Tanah Batak mempunyai eksotika tersendiri yang tak lekang ditelan zaman karena sebahagian masyarakat mengganggap budaya-budaya tersebut merupakan warisan dari para leluhur yang harus dilestarikan kepada generasi-generasi selanjutnya. Budaya-budaya tersebut telah menghiasi sederet destinasi pariwisata di Sumatera Utara yang wajib di kunjungi,
apalagi budaya tersebut merupakan budaya yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu sehingga nilai-nilai historis pun terkandung dalam budaya tersebut. Budaya-budaya tersebut pun kini masih dipertahankan oleh sebahagian masyarakat yang menetap di Tanah Batak, terutama masyarakat Batak yang masih begitu menjaga nilai-nilai budaya yang di wariskan oleh para leluhur, hanya saja budaya-budaya tersebut ditampilkan pada waktu-waktu yang telah ditentukan sehingga keberadaannya cenderung eksklusif. Salah satu budaya yang terdapat di Tanah Batak adalah Pergelaran Budaya Gondang Naposo. Pernahkah Anda mendengar nama pergelaran budaya yang satu ini ? Apabila Anda pernah berkunjung ke Tanah Batak tepatnya pada saat moment-moment tertentu, Anda pasti pernah melihat pergelaran yang satu ini. Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini merupakan warisan budaya yang telah ada sejak masa para leluhur masyarakat Batak, dan biasanya di tampilkan hanya pada moment-moment tertentu seperti acara pernikahan ataupun pada saat acara tertentu. Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini biasa dinamakan masyarakat Batak sebagai Pesta Naposo, sehingga pergelaran ini cenderung di artikan sebagai pesta yang diwarnai kesenian. Pergelaran Budaya Gondang Naposo, sesuai nama yang berarti alat musik gondang atau gendang yang ditabuh, namun uniknya pergelaran yang satu ini tidak selalu memakai gondang meskipun bernama Gondang Naposo. Dan biasanya hanya di isi oleh prosesi acara lainnya yang juga memakai budaya Batak. Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini bisa dikategorikan sebagai pergelaran akbar ataupun bisa juga dikatakan sebagai pergelaran yang sederhana. Sebab, hal tersebut hanya tergantung pada sistem pelaksaannya saja bagi para pelaksananya, meskipun pergelaran yang satu ini selalu identik diartikan sebagai pergelaran akbar yang mewah khususnya bagi masyarakat Batak yang mempunyai derajat tertinggi dalam suatu komunitas. Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini dahulunya digelar oleh masyarakat Batak setempat pada saat tibanya masa panen, dimana pada saat itu semua orang berkumpul di dalam satu lapangan luas untuk melaksanakan suatu acara, dan biasanya dilaksanakan tepat pada malam yang disinari oleh bulan purnama. Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini dahulunya juga merupakan sebuah media yang digunakan oleh para generasi muda sebagai suatu tanda dimulainya kehidupan yang mandiri dengan disertai jiwa yang telah dewasa, baik dewasa dalam pikiran maupun dewasa tindakan, sehingga tak jarang Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini dahulunya digunakan oleh generasi muda sebagai sarana untuk mencari jodoh atau sarana untuk berkenalan antara satu sama lain sehingga terjalinnya komunikasi yang baik sebelum melangsungkan ke jenjang yang lebih serius. Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini biasanya di gelar dalam waktu 2 hari dimana pada hari pertama merupakan hari persiapan yang mengajak seluruh masyarakat maupun kerabat untuk mempersiapkan acara yang akan digelar hingga selesai kemudian ikut manortor bersama-sama. Di hari pertama ini lah biasanya para generasi muda berkenalan antara satu sama lain, tentunya dengan tetap memperhatikan tingkah laku, dan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat. Uniknya pada ajang perkenalan ini biasanya para lelaki mengajak para wanita yang telah ‘diliriknya’ untuk sama-sama ikut menari, dan biasanya perasaan di terima atau di tolak akan dengan mudah terlihat melalui gerakan tarian. Bagi para lelaki yang sudah mendapatkan perhatian dari wanita yang maka untuk selanjutnya lelaki diharuskan untuk melakukan penyematan sebuah daun dari pohon beringin pada kepala wanita yang juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. Kemudian pada hari kedua, adalah hari dimana dimulainya acara inti. Pada hari kedua ini seluruh undangan yang hadir diharuskan untuk sama-sama manortor (menari tor-tor) dan biasanya para undangan akan diajak oleh para pelaksana hajatan untuk ikut manortor dan sama-sama bersuka cita dalam pelaksanaan acara. Biasanya para undangan yang datang adalah para tetangga atau pun kerabat jauh dari berbagai tempat yang diundang secara khusus untuk memenuhi hajatan. Para undangan juga akan memberikan pemberian seperti uang yang jumlahnya tidak ditentukan kepada para penari tor-tor dan di letakkan ke dalam sebuah wadah yang berukuran kecil dan di dalamnya terdapat beras. Pemberian tersebut memang menjadi tradisi tersendiri yang telah ada sejak masa para leluhur, sehingga kini pun tradisi tersebut tetap diwariskan oleh masyarakat Batak dalam tari tor-tor. Kemudian acara hajatan yang diiringi Pergelaran Budaya Gondang Naposo tersebut dilanjutkan dengan beberapa acara hiburan khas Batak yang lainnya hingga sore harinya. Kini Pergelaran Budaya Gondang Naposo ini tetap dilestarikan oleh para pecinta kesenian Batak, terutama bagi mereka yang masih begitu mencintai budaya yang dibawa oleh leluhurnya, meskipun pergelarannya hanya di tampilkan sesekali pada moment-moment tertentu saja. Bahkan uniknya lagi, kini Pergelaran Budaya Gondang Naposo tidak hanya memakai unsur tradisional saja, sebab pergelaran ini pun juga memadukan unsur-unsur modern sehingga percampuran antara kedua unsur tersebut menghasilkan sesuatu yang eksotis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar